Pict by @pixabay.com
Teknik perawatan kayu yang akan dibahas meliputi benda
cagar budaya bergerak dan tidak bergerak. Sedangkan jenis perawatannya meliputi
perawatan preventif dan perawatan kuratif secara tradisional atau modern. Dalam
melakukan perawatan atau mengkonservasi sebuah kayu, ada tiga fase yang harus
dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan. Sebagaimana fase yang dituliskan dalam
buku "petunjuk Teknis Perawatan Benda Cagar Budaya Bahan Kayu" yang
ditulis oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, Direktorat Jenderal Sejarah dan
Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di tahun 2008, yaitu:
A. Sebelum
Pelaksanaan
Kegiatan ini dilakukan sebelum proses pelaksanaan
perawatan yang meliputi, observasi, setelah itu melakukan identifikasi dari
hasil observasi, lalu kemudian melakukan rencana penanganan. Kegiatan
observasi merupakan kegiatan awal yang meliputi observasi terhadap jenis kayu
(morfologi, kilap, struktur, dan tekstur kayu), observasi terhadap kerusakan
dan pelapukan (kilap, perubahan warna, perubahan bentuk yang melengkung atau
memuntir, retak, pecah, terbelah, noda, keropos, lapuk, busuk, lunak, dan
rapuh), observasi kondisi dan bahan pelapis permukaan kayu, observasi terhadap
klimatologi (suhu, kelembaban, curah hujan, dan penguapan), dan observasi
terhadap gejala dan tanda kehadiran agen perusak dan pelapuk kayu.
Setelah melakukan observasi, langkah selanjutnya yaitu
melakukan identifikasi hasil observasi. Identifikasi hasil observasi terdiri
atas tiga aspek, yaitu:
- Kayu asli. Kayu asli diidentifikasi berdasarkan dengan menganalisis morfologi, kilap, struktur dan tekstur kayu untuk mengetahui jenis kayu, serta menganalisis faktor dan penyebab kerusakan dan pelapukan kayu.
- Kayu pengganti. Kayu pengganti diidentifikasi berdasarkan hasil analisis morfologi, kilap, struktur dan tekstur kayu untuk mengetahui jenis kayu tersebut. Selain itu juga dilakukan analisis terhadap sifat fisika (kadar air, berat jeni, penyusutan dan pemuaian) dan mekanika kayu (kekuatan-kekuatan: lengkung statis, tekan, geser, dan tarik)
- Selanjutnya dilakukan pengujian efektifitas bahan perawatan dan dampaknya terhadap benda cagar budaya kayu.
Setelah melakukan identifikasi hasil observasi,
kegiatan selanjutnya adalah melakukan rencana penanganan. Rencana penanganan
meliputi penentuan: prosedur, metode, teknik, bahan, peralatan, tenaga (jumlah
dan kompetensi), dan biaya.
B. Pelaksanaan
Persiapan sarana dan
prasarana
Dalam melakukan pelaksanaan
perawatan benda cagar budaya kayu, diperlukan banyak persiapan seperti
persiapan sarana dan prasarana. Persiapan sarana dan prasarana bertujuan agar
kegiatan pelaksanaan perawatan yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif dan
efisien. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam melakukan pelaksanaan
perawatan benda cagar budaya kayu adalah sebagai berikut:
- Sarana. Sarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan perawatan benda cagar budaya kayu, berupa peralatan tukang kayu (palu, pahat, waterpass), bahan dan peralatan perekaman data (pena gambar, kertas kalkir, kertas milimeterblok, kamera, lampu blitz, skala meter, kompas, negative film, baterai), peralatan perawatan (vacuum cleaner, sikat, sprayer, pisau spatula), dan bahan perawatan yang digunakan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada kayu. Bahan perawatan yang digunakan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan dan pelapukan yang terjadi, biasanya menggunakan bahan pembersih (Neorever, Toluol, Aceton, alkohol, air rendaman tembakau), bahan perekat (Epoxy resin, lem alami dan lem buatan), bahan konsolidasi (Paraloid B-72), dan bahan pengawet (Steadfast, air rendaman tembakau, cengkeh, teh).
- Prasarana. Prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang proses kegiatan pelaksanaan perawatan benda cagar budaya bahan kayu berupa penyediaan daerah kerja, bengkel kerja dan fasilitas bagi para pekerja.
Perawatan
Jenis kegiatan
perawatan benda cagar budaya berbahan kayu meliputi perawatan preventif dan
perawatan kuratif. Jenis perawatan tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Perawatan Preventif. Perawatan preventif
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya proses kerusakan dan pelapukan terhadap
benda cagar budaya. Berdasarkan sifat-sifatnya, perawatan preventif meliputi
dua jenis perawatan, yaitu:
1. Perawatan Rutin. Perawatan
rutin merupakan kegiatan yang dilakukansetiap hari maupun berkala dalam periode
waktu tertentu untuk mencegah kerusakan dan pelapukan benda cagar budaya bahan
kayu.
Benda
cagar budaya tidak bergerak.
Sasaran: debu, noda dan pertumbuhan jasad pada permukaan benda
cagar budaya kayu dan lingkungannya.
Bahan: air, air rendaman tembakau atau alkohol.
Peralatan: Kain bersih, kuas, kemoceng, sikat ijuk, sapu lidi,
sabit, cangkul, tangga, dan lain-lain.
Langkah-langkah:
1)
Siapkan
bahan dan alat yang diperlukan
2)
Lakukan
pembersihan debu, noda, dan pertumbuhan jasad pada permukaan benda cagar budaya
kayu
3)
Lakukan
pencabutan rumput dan pembersihan sampah serta kotoran disekeliling benda cagar
budaya
4)
Lakukan
perbaikan ringan sesuai keperluan
Perawatan benda cagar budaya bergerak
Sasaran: debu dan noda
Bahan: air, alkohol
Peralatan: kain bersih, kemoceng, kuas, sikat nilon atau sikat ijuk
Langkah-langkah:
1)
Siapkan
bahan dan alat yang diperlukan
2)
Lakukan
pembersihan debu dan noda pada permukaan benda cagar budaya kayu dengan
peralatan yang disediakan
2. Pengendalian kondisi klimatologi pada lingkungan mikro dan
pemantauan pada lingkungan makro
a.
Pengendalian
kondisi klimatologi lingkungan mikro
Sasaran: suhu,
kelembaban, pencahayaan, kadar air kayu
Bahan: air,
silica gel, kertas pias, tinta pias
Peralatan: thermometer,
thermometer bola basah bola kering,
termohygrograph, protimeter, hygrometer, luxmeter, dehumidifier
Langkah-langkah:
1)
Siapkan
bahan dan alat yang diperlukan
2)
Lakukan
pengukuran suhu, kelembaban, pencahayaan, dan kadar air kayu.
3)
Lakukan
pencatatan data dan perhitungan hasil pengukuran
4)
Pengolahan
dan evaluasi hasil pengukuran
5)
Khusus
untuk benda cagar budaya bergerak perlu dilakukan pengendalian suhu (20-2400C),
kelembaban (45-60%), pencahayaan, 50-150 lux), radiasi ultraviolet (kurang dari
300 nannometer), dan kadar air kayu (14-20%).
b.
Pemantauan
kondisi klimatologi lingkungan makro
Sasaran: cuaca
dan iklim (suhu, kelembaban, penguapan, curah hujan, arah dan kecepatan angin,
lama penyinaran)
Bahan: air,
kertas pias, tinta pias
Peralatan: thermometer,
thermometer bola basah bola kering, termohygrograph, protimeter,
hygrometer, luxmeter, evapometer, raingauge, anemometer, cambelstokes
Langkah-langkah:
1)
Siapkan
bahan dan alat yang diperlukan
2)
Lakukan
pengamatan suhu, kelembaban, curah hujan, arah dan kecepatan angin, lama
penyinaran
3)
Lakukan
pencatatan data dan penghitungan hasil pengamatan
4)
Pengolahan
dan evaluasi hasil pengamatan
Perawatan Kuratif. Kegiatan perawatan
ini dimaksudkan untuk menanggulangi segala permasalahan kerusakan dan pelapukan
bahan benda cagar budaya. Atas dasar bahan yang digunakan, kegiatan perawatan
kuratif meliputi dua jenis perawatan secara tradisional dan perawatan modern.
1.
Perawatan Tradisional
a) Pembersihan
Sasaran: debu, noda,
lumut kerak, jamur
Bahan: air, air
rendaman tembakau, cengkeh dan pelepah pisang
Peralatan: sikat, kuas,
kain lap bersih, ember plastik
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Lakukan perendaman 10 gram tembakau ditambah 10 gram cengkeh dan 10 gram
pelepah pisang ke dalam 1 liter air selama 24 jam
3) Lakukan pembersihan kayu secara kering
4) Oleskan air rendaman ke seluruh permukaan kayu
5) Gosok dengan menggunakan kain secara hati-hati dan terus menerus sampai
kering (dilakukan berulang-ulang) sehingga noda menghilang dan permukaan kayu
menjadi bersih
6) Keringan dengan kain lap bersih semaksimal mungkin
Cara pembersihan
tradisional ini dilakukan di Rumah adat Kudus setiap tahun sekali dan sudah
berlangsung secara turun temurun. Hasil pembersihan sangat memuaskan, selain
akumulasi debu atau kotoran menghilang juga mampu meningkatkan kilap dan
menanggulangi serangan rayap atau serangga yang lain.
2. Perawatan Modern
a) Pembersihan
a. Pembersihan mekanis kering
Sasaran: debu dan noda
Bahan: tidak diperlukan
bahan secara khusus
Peralatan: kuas dan
sikat halus, vacuum cleaner
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Lakukan pembersihan debu dan noda dengan menggunakan kuas dan sikat secara
cermat dan hati-hati terutama bagi kayu yang berkondisi rapuh
3) Lakukan penyedotan debu dengan vacuum cleaner
b. Pembersihan kimiawi
Sasaran: noda dan cat
pelapis permukaan
Bahan: bahan pelarut
organik antara lain alkohol, aceton, toluol, ethyl acetate atau bahan
pembersih cat khusus “neorever”, kerta pH
Peralatan: sikat nilon
halus (sikat gigi), kuas, kain lap, kapas, solet bamboo/kayu, sarung tangan,
masker
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Lakukan pembersihan secara kering dengan menggunakan kain lap atau sikat
gigi untuk menghilangkan debu dan noda
3) Siapkan solet bamboo/kayu dan balut ujungnya dengan kapas/kain halus dan
basahi dengan salah satu pelarut organik yang telah disiapkan
·
Lakukan penggosokan
pada noda yang menempel pada kayu secara cermat dan hati-hati
·
Untuk kerak cat yang
sudah mengeras dan terikat kuat dengan permukaan kayu dan sulit dibersihkan
dengan bahan pelarut organik, maka dapat digunakan bahan pembersih cat neorever
·
Oleskan neorever
dengan kuas pada noda cat dan biarkan selama maksimal 15 menit kemudian dikupas
dengan menggunakan spatula
·
Bersihkan dengan sikat
nilon halus sampai bersih
·
Bersihkan secara
berulang-ulang sisa bahan kimia yang tertinggal di permukaan kayu dengan
menggunakan kain lap basah sampai air sisa pembersihan berkondisi netral (pH
6-7)
b) Perbaikan
a. Perekatan
Sasaran: kayu asli yang
patah, pecah (gempil) dalam ukuran kecil
Bahan: lem epoxy
thermosetting atau perekat kayu
Peralatan: spatula,
tray, masker, sarung tangan
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Campurkan lem dan aduk hingga rata
3) Oleskan lem pada permukaan kayu yang akan direkatkan
4) Tunggu sampai kering
b. Pengisian lubang bekas serangga
Sasaran: seluruh lubang
pada permukaan kayu
Bahan: lem atau epoxy
resin
Peralatan: spatula,
baki plastik, sarung tangan, masker
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Siapkan bahan pengisi dengan cara mencampurkan serbuk kayu dengan lem atau epoxy
resin sampai membentuk pasta
3) Masukkan bahan pengisi ke dalam lubang bekas serangga dengan menggunakan
spatula
4) Biarkan mengering
c. Penambalan
Sasaran: lubang dan
bagian kayu yang rapuh
Bahan: epoxy resin,
kayu, mill atau serbuk kayu
Peralatan: tray,
spatula, masker, sarung tangan dan alat pertukangan kayu
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Campur dan aduk hingga rata bahan perekat (resin + hardener),
kemudian campurkan dengan mill atau serbuk kayu
3) Siapkan papan datar atau triplek yang telah dibuat lubang kecil dan oleskan
vaselin pada permukaannya
4) Tutup rongga dengan papan
5) Isikan bahan tersebut pada bagian yang berlubang
6) Biarkan bahan mengering dan mengeras, kemudian triplek dilepas
7) Khusus untuk kayu rapuh yang volumenya besar perlu disisipi dengan kayu
sejenis yang volumenya sama dan sudah diolesi dengan bahan perekat
d. Injeksi bagian yang retak
Sasaran: retakan kayu
Bahan: epoxy resin,
wax, atau lempung
Peralatan: injector,
masker, sarung tangan
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Kenakan masker dan sarung tangan untuk keamanan dalam bekerja
3) Tutup retakan dengan wax atau lempung dan buat corong pada bagian
yang paling atas
4) Siapkan campuran resin dan hardener secara homogen
5) Injeksikan bahan tersebut kebagian kayu yang retak
6) Setelah epoxy resin mengering, kupas wax atau lempung sampai
bersih
e. Penyambungan
Sasaran: bagian yang
mengalami patah, rapuh
Bahan: lem, epoxy
resin dan kayu
Peralatan: spatula,
masker, klem/tali pengikat, sarung tangan, pasak dan alat pertukangan kayu
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
2) Pakailah masker dan sarung tangan
3) Potong bagian kayu yang rapuh dan buatlah bidang sambung pada benda cagar
budaya
4) Siapkan kayu pengganti dan buatlah bidang sambung sesuai bidang sambung
yang ada pada benda cagar budaya
5) Siapkan bahan perekat dan oleskan pada kedua bidang sambung
6) Sambungkan kedua bidang sambung dan pasanglah klem atau tali pengikat agar
posisi sambungan tidak berubah
7) Bidang sambung yang secara truktural berfungsi menyangga beban dapat
dipasang pasak sebagai penguatan
8) Khusus untuk kayu yang patah tetapi kondisinya masih baik, penyambungan
hanya dilakukan dengan menggunakan perekat pada bidang patahan, sehingga bidang
patahan difungsikan sebagai bidang sambung. Dalam hal kayu berukuran besar dan
secara struktural berfungsi sebagai penyangga beban dapat digunakan pasak
sebagai penguatan
9) Setelah bahan perekat kering, lepaskan klem dan tali pengikat, serta
bersihkan sisa bahan perekat
f. Penyelarasan warna (kamuflase)
Sasaran: bekas
pengisian lubang, bekas tambalan, bekas injeksi, dan bekas sambungan
Bahan: bubuk gergajian
kayu yang mempunyai tekstur dan warna sejenis dengan kayu asli, bahan epoxy
resin
Peralatan: spatula,
baki, kuas, lap kain, masker, sarung tangan
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan, dan pakailah masker dan sarung
tangan
2) Siapkan serbuk gergajian kayu yang warna dan teksturnya sama dengan kayu
asli
3) Siapkan bahan perekat epoxy resin dan campurkan dengan serbuk
gergajian kayu hingga homogen
4) Oleskan bahan tersebut pada bekas pengisian lubang, bekas tambalan, bekas
injeksi, dan bekas sambungan
5) Setelah bahan perekat mendekati masa kental, perlu ditaburi dengan serbuk
gergajian kayu sejenis
6) Bersihkan sisa bahan perekat yang masih menempel di permukaan kayu
c) Konsolidasi
Sasaran: kayu yang
lapuk
Bahan: paraloid B-72
dengan pelarut organik (toluen)
Peralatan: timbangan,
ember plastik/gelas beaker, gelas ukur, kuas, injektor, alat pengaduk,
sarung tangan, masker
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan, pakailah masker dan sarung tangan
2) Bersihkan dan keringkan permukaan kayu yang akan dikonsolidasi
3) Siapkan larutan konsolidan dengan konsentrasi yang sesuai berkisar 1-2,5%
4) Oleskan larutan konsolidan tersebut dengan menggunakan kuas atau dengan alat
injeksi sampai merata pada seluruh permukaan yang lapuk
5) Biarkan bahan tersebut mengering
6) Aplikasi bahan konsolidasi dapat juga dilakukan dengan cara perendaman
untuk mendapatkan kekuatan rekat kayu yang lebih tinggi
d) Pengawetan
a. Cara pengolesan dan penyemprotan
Sasaran: seluruh
permukaan kayu
Bahan: beberapa jenis
bahan dengan spesifikasi bahan pengawet kayu yang biasanya digunakan antara
lain chlordane EC-90, dieldrin, minyak tanah
Peralatan: ember
plastik/gelas beaker, gelas ukur, sarung tangan, masker, kuas sprayer
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan, pakailah masker dan sarung tangan
2) Bersihkan dan keringkan seluruh permukaan kayu
3) Siapkan larutan bahan pengawet kayu dengan pelarut dan kadar yang sesuai
4) Oleskan larutan bahan pengawet kayu tersebut dengan menggunakan kuas, alat
semprot atau dengan alat injeksi sampai merata pada seluruh permukaan kayu
5) Biarkan bahan tersebut mengering
6) Aplikasi bahan dapat juga dilakukan dengan cara perendaman untuk
mendapatakan hasil pengawetan yang lebih baik dan lama
e) Pelapisan permukaan (coasting)
Sasaran: pelapisan
permukaan benda cagar budaya yang telah rusak (misalnya di cat atau dipolitur)
Bahan: cat, plitur,
vernis
Peralatan: ember
plastik, sarung tangan, kuas, masker, kain lap, alat pengaduk, alat semprot
Langkah-langkah:
1) Siapkan bahan dan alat yang diperlukan, pakailah masker dan sarung tangan
2) Bersihkan pelapis permukaan kayu yang mengelupas
3) Siapkan bahan pengganti pelapis permukaan kayu yang sesuai dengan jenis dan
warna bahan pelapis kayu yang asli
4) Oleskan bahan pelapis tersebut dengan menggunakan kain, kuas, alat semprot
sampai merata pada seluruh permukaan kayu
5) Biarkan bahan tersebut mengering
f) Pelapis bahan kedap air
Sasaran:
mencegah/menghambat kapilarisasi dan rembesan air pada kayu yang berhubungan
langsung dengan tembok atau tiang-tiang yang kontak dengan tanah
Bahan: araldite tar,
ter
Peralatan: kuas, ember
Langkah-langkah:
1) Siapkan alat dan bahan
2) Pakailah masker dan sarung tangan
3) Oleskan bahan pada bagian kayu yang berhubungan langsung dengan
tembok/tanah
4) Pekerjaan ini hanya dilakukan pada kayu yang dibongkar
C. Sesudah Pelaksanaan
1.
Penyimpanan
a.
Sasaran: benda cagar
budaya bergerak berbahan kayu
b.
Persyaratan minimal
tempat penyimpanan:
1) Tempat penyimpanan harus dibawah atap, baik berupa bangunan rumah atau
bangsal
2) Ukuran ruang penyimpanan harus disesuaikan dengan jumlah dan besarnya benda
cagar budaya yang akan disimpan
3) Kondisi ruangan agar terkontrol dari segi keterawatan dan keamanan
c.
Peralatan: peralatan
klimatologi, peralatan keamanan, peralatan pemadam kebakaran, rak penyimpanan,
meja beroda, tangga
d.
Langkah-langkah:
1) Siapkan bangunan tempat penyimpanan
2) Siapkan rak penyimpanan sesuai dengan kebutuhan
3) Pindahkan benda cagar budaya yang telah dirawat dengan menggunakan alat
angkut yang telah disiapkan
4) Letakkan benda cagar budaya yang telah dirawat tersebut pada rak dengan
posisi yang benar dan aman
2.
Pendokumentasian
a. Sasaran:
1) Data benda cagar budaya
2) Data kerusakan dan pelapukan benda cagar budaya
3) Data mengenai faktor dan penyebab kerusakan atau pelapukan
4) Data kondisi lingkungan
5) Jenis kegiatan perawatan
6) Hasil kegiatan perawatan
b. Bentuk: verbal (tulisan yang mendeskripsikan) dan pictorial
(gambar, foto, dll)
c. Waktu: sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaan perawatan
3.
Pemantauan dan Evaluasi
a. Sasaran:
1) Keterawatan benda cagar budaya bahan kayu
2) Kondisi klimatologi di lingkungan mikro dan makro
b. Bahan:
1) Hasil perekaman kondisi keterawatan awal
2) Hasil perekaman pelaksanaan perawatan
3) Hasil perekaman setelah pelaksanaan perawatan
c. Peralatan: standardisasi keterawatan benda cagar budaya
d. Langah-langkah:
1) Amati kondisi keterawatan setiap komponen benda cagar budaya bahan kayu,
minimal 1 tahun sekali baik secara kualitaitf maupun kuantitatif
2) Ambil sampel untuk dianalisis di laboratorium, jika diperlukan
3) Bandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah perawatan
4) Bila ada perubahan terutama pada penurunan kualitas keterawatan perlu
diambil langkah-langkah lebih lanjut
REFERENSI:
Winarno, Suyud dkk. 2006 "Petunjuk Teknis Perawatan Benda Cagar Budaya Bahan Kayu". Jakarta: Direktorat Peninggalan Purbakala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.